Rabu, 30 Januari 2008

Soedarbo's Family Gathering


RAMAH CANDA KEPALA KELUARGA

Oleh : Uus Husni Sofyan

“Mukmin yang sempurna imannya ialah yang terbaik budi pekertinya dan lunak jenaka kepada keluarganya. Dan sebaik-baik kamu ialah yang terbaik kepada istrinya.” (HR Attirmidzi)

Keluarga adalah tonggak Negara. Keluarga yang baik & terjaga keharmonisannya berarti turut menjaga tegaknya Negara. Sebaliknya, dari keluarga yang buruk tidak terpelihara keharmonisannya akan melahirkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang buruk dan membebani negara.

Keluarga juga diibaratkan ibarat bahtera. Dan sebaik-baik bahtera adalah yang baik nahkodanya. Ia adalah kepala dari Anak Buah kapal (ABK). Pengatur manajemen kapal. Ia yang menjadwalkan berlayar dan berlabuhnya kapal, ia yang menetapkan arah dan tujuan kapal, ia yang menentukan naik & turunnya layar kapal, bahkan ia pulalah yang menentukan layak tidaknya sebuah kapal berlayar. Dalam keluarga, suamilah nahkoda itu.

Allah SWT berfirman :

Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena itu Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS Annisa : 34)

Maksudnya, tanpa bermaksud mengabaikan kelebihan dari seorang wanita, seorang lelaki, karena kemampuan fisiknya, karena watak pembawaannya, karena keleluasaan pergaulannya, secara kudrat seorang lelaki dalam berkeluarga ia adalah pemimpin perempuan, tidak sebaliknya. Oleh karena itu lelakilah yang disebut kepala keluarga. Selemah-lemahnya seorang lelaki, didalam berumah tangga ia tetap simbol kepala keluarga yang paling bertanggung jawab dan berkewajiban memberikan perlindungan terhadap keluarga : anak & istri. Sabda Rasulullah SAWW :

“Seorang lelaki itu penggembala (pemimpin) didalam rumah tangganya, dan bertanggung jawab terhadap gembalanya (yang dipimpinnya).(HR Bukhari)

Karena lelaki itu pemimpin, kepala keluarga, maka harus bisa memimpin. Selain tugas melindungi juga berkewajiban menuntun yang dipimpinnya. Diantara bentuk pimpinan dan tuntunannya adalah membawa keluarga pada suasana nyaman dan menyenangkan dalam menjalani hidup & kehidupan. Bagi sebuah keluarga, rasanya tidak ada yang lebih nyaman dan menyenangkan dalam menjalani kehidupan selain ketika memiliki seorang kepala keluarga yang berbudi pekerti baik dan lunak jenaka alias ramah menemani mereka.

Kepala keluarga yang ramah menyegarkan suasana seisi rumah, keramahannya bisa mendatangkan rasa nyaman dan tentram bagi keluarga. Dipastikan sikap ramah kepala keluarga berpengaruh terhadap pembentukan pribadi yang ramah pula kepada anggota keluarga yang lain : Istri, anak, pembantu, semua menjadi ikut ramah.

Lebih dari sekedar itu bahkan, keramahan yang terbentuk diantara anggota keluarga bisa menghilangkan perasaan jelek, dengki, canggung, sungkan, buruk sangka dan mungkin bermusuhan diantara anggota keluarga. Dan ini secara otomatis membentuk jalan komunikasi yang baik diantara anggota keluarga, akibatnya? tentu akan lebih menumbuhkan ikatan emosi dan ikatan batin yang lebih kuat diantara sesama anggota keluarga, sehingga terjagalah rasa saling cinta, sayang, dan saling menjaga & melindungi.

Sebagai seorang kepala keluarga, Rasulullah SAWW mencontohi kita dengan sikap demikian. Beliau senantiasa bersikap ramah dengan keluarganya. Tidak terkecuali kepada anak kecil sekalipun. Sekedar untuk menyenangkan hati cucunya yang masih kanak-kanak, beliau tunjukan sikap ramah dengan berperan layaknya kanak-kanak sebaya mereka tatkala menemani bermain. Dalam riwayat diceritakan, untuk menyenangkan hati mereka beliau bermain kuda-kudaan dan memanggul Hasan Husain dipunggungnya. Ini menunjukan kepedulian beliau akan pengaruh sikap manis & ramah terhadap keluarga.

Ramah, memang siapa yang membenci? Dimana ada orang yang membenci sikap ramah? Sebaliknya sikap ramah meembuat manis & menghibur setiap keadaan. Sabda Rasulullah SAWW :

Sesungguhnya ramah itu tidak terletak pada sesuatu melainkan menambah kebagusan, dan tiada tercabut dari sesuatu melainkan menambah kejelekkan.” (HR Muslim)

Bila sudah demikian ramah seorang kepala keluarga, bagi keluarga tidak ada sebaik-baik tempat kembali untuk mereka berkumpul, bertanya dan berembuk mengenai persoalan yang menimpa diri melainkan membawa dan merembukannya dengan kepala keluarga dan keluarga di rumah. Karena ia tahu, disanalah setidaknya ia akan merasakan nyaman untuk mendiskusikan dan mendapat jawaban atas setiap persoalannya, sekecil apapaun jawabannya itu. Inilah bagian apa yang disebut Baiti jannati: Rumahku syurgaku. Rumah serasa syurga, tempat yang menyenangkan untuk bertemu, bertukar pikiran, dan menyelesaikan masalah. Semua ini tercipta karena kepemimpinan yang lunak ramah dari sang kepala keluarga. Dari keluarga yang terpelihara keharmonisannya seperti ini, kita semua yakin insya Allah akan terlahir generasi-generasi baik berprestasi yang akan menjadi tonggak masyarakat, tonggak Negara.
Sebaliknya, dari kepala keluarga yang kaku, keras, cenderung masa bodoh terhadap keluarga jangan berharap banyak akan kebaikannya. Ia membawa suasana hambar dan malas keluarga. Komunikasi menjadi barang mahal yang tidak ternilai. Sekedar urusan tegur sapa orang serumah saja seringkali menjadi persoalan bagi keluarga, apalagi untuk memuji-muji atau saling mengingatkan. Rumah bisa-bisa menjadi tempat yang paling tidak disukai bagi s eluruh anggota keluarga. Keluarga yang tumbuh dengan keadaan yang demikian berpotensi mencetak setiap anggotanya untuk menjadi seorang yang egois dan masa bodoh terhadap lingkungannya. Jangankan dengan orang luar, dengan saudara serumah sendiri ia malas dan enggan untuk saling memperhatikan. Bahkan, kurangnya kepedulian dan tidak terlatihnya motor perasaan menangkap peristiwa yang menyedihkan, memprihatinkan, atau memerlukan bantuan dari lingkungan sekitar membuat anggota keluarga yang demikian, biasannya membuat anak-anak mereka “tumbuh sekedar tumbuh”. Tidak ada atau kurang bergairah untuk menjadi pribadi-pribadi yang berprestasi atau maju dilingkungan pergaulannya. Semua karena kepemimpinan yang kaku hambar dari kepala keluarga.

Apalagi kalau kepala keluarga itu tidak sekedar kaku dan kurang ramah, tetapi juga pemarah. Ia bisa-bisa membawa suasana neraka kedalam rumah. Pembawaannya yang kaku hambar juga pemarah bisa membawa suasana ketakutan dan mencekam para penghuni rumah. Bahkan seringkali membuat panik & kusut berpikir seisi rumah. Persoalan apapun yang kecil bisa menjadi besar dan memusingkan penghuni rumah. Mana ada anggota keluarga yang mau berembuk dengan kepala keluarga yang demikian? Jangankan untuk berkarya dan berkreasi, untuk rasa nyaman saja penghuni rumah serasa tidak memilikinya. Istri menjadi tertekan serba salah akan sikap kaku hambar sang suami. Sementara anak-anak menjadi pemalas, bodoh, keras hati dan penakut, atau malah jahat karena kurangnya rasa perlindungan dan bimbingan dari keluarga.

Inilah sejelek-jelek kepala keluarga yang mencelakakan. Bukan saja merugikan tapi juga merusak masa depan banyak orang yang ada dibawah pimpinannya. Dari keluarga yang demikian kita tidak berharap banyak akan kebaikannya. Jangankan untuk membangun masyarakat & bela negara. Untuk urusan dirinya sendiri saja mereka malah memerlukan pertolongan.

Maka itu Rasulullah SAWW katakan, diantara ciri mencapai kesempurnaan iman seorang kepala keluarga diantaranya apabila ia terlihat berbudi pekerti baik & ramah kepada keluarganya. Karena sikap ramah jenaka kepada istri dan keluarga adalah menunjukan kedalaman hati dan pemahaman yang luas dalam beragama. Singkatnya, ia orang berilmu ahli hikmah!

Maka, marilah kita berbuat ramah kepada keluarga. Toh, tidak ada orang yang akan dirugikan oleh sikap ramah kita. Sebaliknya malah mungkin keluarga dan orang banyak senang atau terhibur oleh sikap kita. Sekedar mengingatkan, kenapa Rasulullah SAWW mewasiatkan kepada kita untuk senantiasa berbuat baik dan memperhatikan betul-betul kepada anak-anak yatim. Bukan sekedar soal hartanya yang ditakuti tidak ada, lebih dari itu adalah kasih sayang figur ayah sebagai kepala keluarga yang tidak dimiliki oleh anak yatim, siapa yang bisa menggantikannya?

Sebagai kepala keluarga, jangan “meyatimkan” anak-anak kita dengan pelit berkasih sayang terhadap mereka. Rawat, pelihara dan buai mesralah anak-anak kita dengan kasih sayang dan sikap ramah.

Kepada mereka kepala keluarga yang mungkin memiliki watak keras, kaku, hambar apalagi pemarah dan egois terhadap keluarga, alangkah baiknya Anda belajar berbuat ramah kepada orang lain, terlebih itu keluarga. Teringatlah hadist Nabi SAWW untuk kita renungkan bersama :

Segala seuatu yang tidak ada padanya dzikrullah adalah sia-sia dan gurauan belaka, kecuali empat perkara, diantaranya adalah… dan ramah canda seorang suami terhadap keluarganya. “

“Neraka itu diharamkan atas setiap orang yang lunak, ramah, lapang dada dan mudah baik hubungannya.”
(HR Attirmidzi)

“Sesungguhnya Allah lunak dan tenang. Suka pada ketenangan pada semua urusan.” (HR Bukhari Muslim)